Rabu, 15 Juni 2011

TIRAWOAI-TIRAWOAK' ALAT MUSIK TERANEH KERINCI

PELAYANG BLOG- Kerinci, 'Tirawoai-Tirawoak' adalah satu jenis alat musik paling aneh dan paling unik di tanah air bahkan mungkin di yang salah satu khasanah budaya luar biasa warisan kebudayaan Proto-Melayu dari desa Pulau Tengah kabupaten Kerinci, Jambi. ''Kalau Sasando dari pulau Rote NTT dinilai sebagai alat musik yang unik maka di Kerinci ada alat musik yang lebih unik lagi bahkan saking uniknya bisa disebut sangat aneh, yakni Torawai- Tirawak,'' kata budayawan seniman tradisi Jambi Azhar MJ, di Jambi, Senin. Alat musik tersebut, terang Azhar, adalah alat musik yang dibuat langsung ke tanah dengan sistem pembuatan 'Paleboung' (lubang) ke dalam tanah berbentuk bersegi panjang atau oval dengan ukuran 1 hingga 1 ,5 meter persegi dengan kedalaman yang sama, artinya alat musik ini menyatu langsung dengan tanah. ''Hal ini menunjukkan filosofinya betapa masyarakat Kerinci sedari dulu kehidupannya sangat menyatu dengan alam, hingga saat ini saya belum menemukan informasi ada alat musik serupa itu di dunia, tapi mungkin saja di Afrika ada,'' sebut Azhar. Alat musik yang dibuat dengan 'Peleboung' di tanah tersebut adalah sepasang lubang yang diatasnya dibentangkan dengan kencang senar-senar dari rotan. Pada Paleboung pertama yang disebut 'Tirawoai' senar rotan itu berikutnya dilengkapi pula dengan 'Upih' enau dengan teknik menyisipkan, sementara di Paleboung kedua yang disebut Tirawoak disisipkan mepurung kelapa yang berfungsi seperti gong canang gamelan pengatur nada dan irama, sedangkan alat Tirawoai berfungsi sebagai alat Ritmis layaknya bass atau gendang. ''Anehnya, meskipun kedua alat tersebut memakai senar namun penggunaannya atau cara memainkan senar yang terbuat dari rotan tersebut tidak dengan teknik memetik atau membentotnya atau pun menggeseknya layaknya alat petik dan gesek lain seperti gitar, gambus, biola dan Celo, melainkan dengan cara memukul atau melecutnya dengan tongkat dari kayu pohon manau,'' terang Azhar. Pukulan atau lecutan dalam irama-irama purba yang magis itulah menghasilkan resonasni bunyi yang luar biasa menggemanya sehingga cukup menggetarkan alam di sekitaran desa tempat acara pertunjukan diselenggarakan. ''Dan lebih aneh bahkan paling aneh lagi adalah fungsi dan kegunaan alat musik yang terbilang peninggalan budaya purba ini, yakni digunakan masyarakat setempat untuk tradisi atau ritual 'Ngagouh Himau' (memanggil harimau) yang diyakini masyarakat setempat sebagai nenek moyangnya,'' terang Azhar. Ritual Ngagouh Himau itu sendiri adalah ritual purba berbau magis berbentuk tarian dan tradisi tutur berisi mantera-matera, yang masih hidup dan dipakai masyarakat desa Pulau Tengah kecamtan Keliling Danau hingga kini. ''Melalui resonansi bunyi yang bergema melalui tanah itulah diyakini akan didengar oleh harimau yang tengah berada jauh di tengah hutan, dengan nada yang rahasia itu diyakini harimau akan mendatangi mereka guna menerima sesajian yang dipersembahkan warga untuk sang penguasa rimba tersebut,'' papar Azhar. Karena alat ini dibuat menyatu dengan tanah itulah maka sangat tidak efektif dan sulit untuk dikembangkan apalagi dipublikasikan kepada publik luas, masyarakat umum hanya bisa melihatnya di tempat ritual upacara Ngagouh Himau akan diselenggarakan. ''Selaku seniman kita tidak lantas patah arang, kini kita punya cara mengaplikasikan alat tersebut menjadi alat musik yang bisa efektif dibawa-bawa ke arena- arena pertunjukan yakni dengan mengubah Paleboung dengan alat berupa kota atau tabung seperti drum yang diberi senar rotan,'' tutur Azhar. Alat musik baru yang merupakan aplikasi alat musik purba Tirawoi- Tirawoak itu diakui Azhar sedikit lari dari makna filosofis dan nilai atural dari alat musik itu sendiri, namun untuk kebutuhan publikasi maka hal itu harus dilakukan. ''Kita rencanakan komunitas musik tradisinya 'Mindulahin' alat Tirawoai-Tirawoak tersebut akan dihadirkannya di Panggung Temu Karya Nusantara di Solo pada 20 Juli mendantang,'' tandas Azhar. (atr/afn) sumber: http://www.faktapos.com

BERBAGI KE:
lintasberita

Berita Terkait:

0 Komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas comment nya kawan. Silahkan datang kembali ke blog saya ini ya?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More