Rabu, 22 Juni 2011

Kelok 44, Jangan Lupa Obat Antimabuk...

PELAYANG BLOG - Sumatera barat(SUMBAR),DUA BELAS kabupaten dan kota Sumatera Barat yang dilewati pebalap di ajang balap sepeda Tour de Singkarak (TdS) 2011 dibagi dalam tujuh etape . Rute yang dilewati penuh dengan obyek wisata khas masing- masing daerah. Jika Anda tertarik untuk melintasi daerah-daerah yang dilalui pebalap sepeda pada TdS 2011, berikut beberapa obyek wisata yang menonjol di setiap etape. Etape 1: Padang Circuit Race Etape 1 adalah etape satu- satunya dengan titik start dan finish yang sama yaitu Taman Budaya. Taman Budaya berhadapan langsung dengan Pantai Padang. Jika Anda berwisata ke Padang, jangan lupa melihat keelokan matahari terbenam di Pantai Padang sambil menikmati es kelapa muda dan jagung bakar. Susuri Pantai Padang atau naik saja kereta wisata pantai berupa mobil terbuka untuk membawa wisatawan berkeliling pantai. Etape 2: Padang-Pariaman Pada etape ini, ada tiga kabupaten dan kota yang dilewati, yaitu Kota Padang, Kabupaten Padang Pariaman, dan Kota Pariaman. Di Kabupaten Padang Pariaman, ada obyek wisata Tapian Puti yang layak dikunjungi. Tapian Puti merupakan tempat pemandian dengan tujuh tingkat. Konon, seorang putri raja pada zaman dahulu sering mandi di tempat ini. Sementara di Kota Pariaman, wisatawan harus mengunjungi tiga pantai primadona kota itu, yaitu Pantai Kata, Pantai Cermin, dan Pantai Gandoriah. Ketiga pantai ini sangat unik karena ditumbuhi pohon cemara. Etape 3: Pariaman- Bukittinggi Ada tiga kabupaten dan kota yang dilewati yaitu Kota Pariaman, Kabupaten Agam, dan Kota Bukittinggi. Di Kota Pariaman, wisata pantai masih berlanjut dengan Pantai Arta dan Pantai Gasan. Danau Maninjau dan Kelok 44 akan menyambut wisatawan di Kabupaten Agam. Kelokan tajam berjumlah empat puluh empat bisa "memainkan" perut wisatawan. Karena itu, jangan lupa minum obat anti mabuk sebelum memulai perjalanan. Mampir di warung Kelok 22 untuk menghangatkan perut dengan segelas kopi sambil menikmati panorama sawah bertingkat dan eloknya Danau Maninjau. Sementara di Bukittingi, Jam Gadang yang merupakan ikon kota Bukittinggi tak pantas dilewatkan wisatawan. Setelah itu mampirlah ke Kebun Binatang Bukittingi untuk melihat harimau sumatera. Jaraknya sangat dekat dengan Jam Gadang, cukup ditempuh dengan jalan kaki. Langkahkan kaki selanjutnya ke Rumah Kelahiran Bung Hatta. Ya, Bukittinggi adalah kampung halaman Bung Hatta. Jangan lupa membeli aneka cemilan khas Bukittingi di Pasar Ateh. Etape 4: Bukittinggi-Lembah Harau Jam Gadang di etape tiga yang menjadi titik finish, berubah menjadi titik start di etape empat. Pada etape ini, tiga kabupaten dan kota dilewati yaitu Kota Bukittinggi, Kota Payakumbuh, dan Kabupaten Limapuluh Kota. Di Kota Payakumbuh, ada objek wisata sejarah yaitu Jembatan Ratapan Ibu. Pada masa kolonial Belanda, banyak korban putra daerah yang berjatuhan akibat perang melawan Belanda. Karena itu, jembatan tersebut mengingatkan wisatawan akan keberanian para pejuang penjajah. Sementara itu di Kabupaten Limapuluh Kota, obyek wisatanya adalah Gunung Tembus. Beberapa ahli sejarah menyebutkan sejarawan asal China yang terkenal pada masanya pernah datang berkunjung ke Gunung Tembus dalam perjalanannya menuju Kerajaan Sriwijaya di tahun 430 Masehi. Puncak kekaguman di Kabupaten Limapuluh Kota tentu saja Lembah Harau. Air terjun di tebing tinggi menjulang akan memukau wisatawan. Lokasi ini juga sering dijadikan tempat untuk olahraga panjat tebing. Etape 5: Payakumbuh- Sawahlunto Ngalau Indah sebagai titik start etape 5 adalah obyek wisata andalan Kota Payakumbuh. Di Ngalau Indah, wisatawan dapat melihat Kota Payakumbuh dari ketinggian. Sebelumnya, wisatawan harus berjalan menanjak sejauh 400 meter dari areal parkir. Bisa juga naik sepeda tandem yang bisa digunakan wisatawan secara gratis. Wisatawan juga bisa mampir ke gua yang terdapat di Ngalau Indah. Beberapa batu di dalam gua memiliki bentuk yang unik. Sementara itu, Taman Segitiga di Kota Sawahlunto adalah titik finish etape 5. Sebuah bangunan kantor dengan arsitektur khas Belanda akan menyambut wisatawan. Sejenak wisatawan akan terasa dilempar ke dimensi waktu yang berbeda. Ya, Sawahlunto ibarat Kota Tua Jakarta. Banyak bangunan peninggalan Belanda. Sawahlunto adalah bekas kota tambang batu bara yang dibangun oleh kolonial Belanda. Beberapa peninggalan tambang batubara "disulap" menjadi obyek wisata. Pada malam hari, warga memadati Taman Segitiga untuk sekadar "nongkrong" sambil berinternet gratis. Taman Segitiga memang menyediakan fasilitas wifi gratis. Etape 6A: Sawahlunto-Istano Basa Pagaruyung Tak lengkap berkunjung ke Sawahlunto jika tidak naik kereta api "Mak Itam". Kereta api "Mak Itam" adalah ikon Kota Sawahlunto. Dulu, "Mak Itam" digunakan sebagai kereta pengangkat batu bara. Ia beralih fungsi menjadi kereta api wisata di tahun 2005 . Wisatawan bisa naik "Mak Itam" di akhir pekan untuk berkeliling sejauh 8 kilometer. Nantinya, kereta sempat masuk ke terowongan sepanjang satu kilometer. Selama perjalanan, panorama alami dan tradisional seperti sawah serta rumah penduduk akan memukau wisatawan. Selanjutnya di Kabupaten Tanah Datar, Istano Basa Pagaruyung nan megah menyambut wisatawan. Dahulu, rumah gadang tersebut adalah istana raja. Di dalamnya, Anda bisa melihat aneka peninggalan raja Kerajaan Pagaruyung di masa kolonial Belanda. Sayang, saat ini di dalam istana masih kosong.

BERBAGI KE:
lintasberita

Berita Terkait:

0 Komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas comment nya kawan. Silahkan datang kembali ke blog saya ini ya?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More