Kamis, 02 Juni 2011

7 Obyek Wisata yang di minati turis kapal pesiar

PELAYANG BLOG - Jakarta, Sebagian besar situs yang masuk dalam warisan dunia UNESCO menjadi daya tarik bagi wisatawan kapal pesiar. Situs-situs ini antara lain Candi Borobudur, Candi Prambanan, Taman Nasional Komodo, Taman Nasional Ujung Kulon, Situs Manusia Purba Sangiran, Taman Nasional Lorentz, dan Hutan Hujan Tropis Sumatera (Tropical Rainforest Heritage of Sumatra). "Ketujuh objek wisata ini yang perlu disoroti dari Indonesia untuk para tamu yang turun dari kapal pesiar," kata Expert Itinerary Planning Topic, Nancy Cipra dalam acara Seminar International Cruise Development of Indonesia, di Gedung Sapta Pesona, Jakarta, Senin (30 /5 /2011) lalu. Ia membawakan presentasi mengenai pengembangan destinasi kapal pesiar. Nancy sudah 12 tahun lebih bekerja di bidang manajemen kapal pesiar. Salah satu destinasi kapal pesiar yang sering ia datangi adalah Indonesia. Biasanya, saat kapal pesiar berlabuh di suatu pelabuhan, para penumpang akan turun ke daratan dan melakukan pelesir di destinasi tersebut. Mereka biasanya menghabiskan waktu 8-48 jam saat di daratan tergantung dari paket wisata yang ditawarkan. "Indonesia perlu membuat paket perjalanan lintas daratan yang melibatkan kegiatan di luar kapal selama satu atau dua hari. Para penumpang ingin melihat situs-situs menarik tertentu," ungkap Nancy. Ia memberi contoh untuk paket wisata Semarang bisa dibuatkan perjalanan ke Candi Borobudur dan Candi Prambanan pula. Nancy menjelaskan saat penumpang turun, harus ada tur-tur wisata yang melakukan perjalan ke situs-situs bersejarah, situs budaya, situs religi, objek wisata yang bersifat petualangan, dan wisata belanja. "Wisata tersebut harus bisa menggambarkan Indonesia sebagai tempat dengan multiagama dan budaya. Kerajinan tangan khas Indonesia yang diwariskan turun temurun juga perlu ditonjolkan," kata Nancy. Nancy juga menekankan pentingnya pemandu wisata yang berkualitas. "Pemandu wisata adalah elemen terpenting dari semua hal. Kalau Indonesia nantinya semakin bisa menerima penumpang dari kapal-kapal pesiar yang besar, maka Indonesia akan butuh semakin banyak pemandu yang sudah ahli. Kita bisa saja mengalami obyek wisata yang tidak menarik, restoran yang buruk, atau jalanan yang kacau, tapi mendapatkan pemandu wisata yang baik, maka perjalanan akan terasa menyenangkan," jelasnya. Wisata yang ditawarkan sebaiknya adalah program- program aktif seperti hiking, bersepeda, scuba, kayak, rafting, atau snorkeling. Semakin aktif, lanjut Nancy, akan semakin baik. Namun tetap pengalaman yang dicari adalah yang asli, bukan buatan. "Kami tidak menginginkan Indonesia yang seperti Disneyland, buatan. Selain itu, wisata yang dicari adalah wisata yang mengizinkan tamu untuk berpartisipasi, misalnya berpartisipasi dalam dansa atau ke pabrik batik dan ikut membuat batik. Biarkan tangan mereka ikut bekerja dan melakukan sesuatu yang unik, atau membuat sesuatu yang bisa dibawa pulang," ungkapnya. Selain itu, obyek wisata lain yang diincar adalah bentuk wisata yang mempromosikan sifat-sifat relawan. "Kegiatan wisata yang selain pelesir juga memberikan sesuatu kembali kepada negara yang dikunjunginya ada unsur ekowisatanya. Misalnya Green School di Bali yang kini dipromosikan sebagai tur wisata tapi pengunjung melakukan suatu kegiatan sosial," tuturnya. Nancy juga mengutarakan pentingnya komunikasi antara perusahaan kapal pesiar dengan instansi pemerintah di Indonesia. Hal ini masih menjadi kendala dalam kegiatan kapal pesiar selama ini. Menurut Nancy, kendala lainnya adalah akses perjalanan darat. Ia memberi contoh di Toraja, jalanan setapaknya memang asli dan khas Toraja. Namun, di kala hujan, jalanan sangat licin dan berbahaya. "Kami memang mau tetap asli, tapi akses juga perlu memperhatikan faktor keamanan," urainya. Kendala lain adalah kebersihan toilet. Ia mengatakan kebutuhan toilet ala barat masih minim di Indonesia. "Ini masih kesulitan di beberapa daerah. Minimal adalah toilet bersih dan tersedia kertas toilet," tuturnya. Selain itu, restoran yang bersih pun menjadi masukan para tamu kapal pesiar saat berkunjung ke Indonesia. Apalagi, lanjutnya, orang-orang barat seperti orang Amerika Serikat cenderung makan dengan cepat. Sehingga mereka ingin makanan disajikan dengan cepat. Sementara sebagian besar restoran di Indonesia lama dalam penyajian. "Kami juga membutuhkan sebuah atraksi budaya berupa penari atau musisi lokal. Selain itu, kerajinan tangan khas Indonesia sangat luar biasa. Saya sendiri sangat senang dengan kerajinanan Indonesia, apalagi tamu- tamu. Mungkin bisa ditata dengan rapi di pelabuhan saat mereka akan naik kembali ke kapal, para pedagang membuka stan dan menjual suvenir dengan rapi," jelasnya. Sementara itu, sebelumnya dalam jumpa pers mengenai Seminar International Cruise Development of Indonesia, Direktur Promosi Luar Negeri Kembudpar, Noviendi Makalam menuturkan Bali masih mendominasi daerah kunjungan kapal pesiar. Selain Bali, daerah lain yang dikunjungi adalah Jawa dan Nusa Tenggara Timur khususnya Komodo. Beberapa destinasi di Indonesia yang dikembangkan adalah Bangka Belitung dan Karimun Jawa. "Probolinggo juga menarik karena tamu asing ingin ke Bromo. Tapi pelabuhannya tidak di Tanjung Perak, karena di bawahnya ada pipa gas. Jadi ke Probolinggo. Sabang juga berpotensi karena strategis dan aman untuk kapal pesiar berlabuh. Fasilitas untuk kapal merapat itu memadai dan kedalamannya juga memadai. Sedangkan Bali itu bisa menjadi hub untuk cruise. Letaknya tepat di tengah Asia dan Australia. Bisa kita padukan Singapura ke Bali lalu putar beberapa kali di Indonesia baru kembali ke Singapura. Bisa juga dengan Sydney seperti itu. Ke depannya bisa kita kembangkan dengan Flores dan Biak," papar Noviendi. Hanya saja, operator kapal pesiar, menurut Noviendi, masih menemukan beberapa kendala. Misalnya di Semarang pada tahun 2010, sebuah kapal pesiar pernah tersangkut. Hal ini, lanjutnya, terkait dengan kemampuan pelabuhan untuk menerima kapal pesiar. Salah satu masukan dari operator kapal pesiar adalah Taman Nasional Komodo yang merupakan daya tarik besar bagi kapal pesiar. Noviendi menjelaskan mereka sering mempertanyakan kejelasan siapa yang sebenarnya mengelola Taman Nasional Komodo karena berkaitan dengan perizinan. Sumber: http://travel.kompas.com

BERBAGI KE:
lintasberita

Berita Terkait:

0 Komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas comment nya kawan. Silahkan datang kembali ke blog saya ini ya?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More