Selasa, 31 Mei 2011

Cincin Anye, Alat Bayar Sebelum Uang

PELAYANG BLOG -Kerinci, Budayawan dan Peneliti Kebudayaan Kerinci Iskandar Zakari mengatakan nenek moyang masyarakat Kerinci sudah mengenal sistem pembayaran atau alat tukar barang sebelum ditemukannya uang yakni pembayaran dengan "Cincin Anye". "Pada zaman sebelum ditemukan atau dipergunakannya uang sebagai sistem pembayaran, nenek moyang masyarakat Kerinci justeru sudah selangkan lebih maju dari sistem 'barter', yakni sistem pembayaran dengan menggunakan 'Cincin Anye'," kata Iskandar Zakaria, di Kerinci, Senin. Hal tersebut menjadi catatan menarik lainnya bagi sejarah perkembangan peradaban Kerinci, mengingat pada masa itu masyarakat di daerah- daerah lainnya masih menggunakan sistem "barter" atau tukar menukar barang. Memang, tambah Iskandar, belum ditemukan bukti atau fakta tentang tahun berapa alat pembayaran berupa cincin tersebut dipergunakan, namun yang pasti alat pembayaran non uang tersebut dipastikan dipergunakan semenjak rakyat Kerinci mengenal kemampuan mengolah logam. Bahkan semasa pemerintahan kolonial Belanda hingga masa-masa awal kemerdekaan RI, "Cincin Anye" tersebut masih dipakai warga sebagai alat pembayaran di antara masyarakat setempat. "'Cincin Anye' itu sendiri adalah cincin belah rotan yang terbuat dari campuran antara tembaga dan kuningan, pada zaman dulu memiliki cincin tersebut juga menjadi identitas tingkat ekonomi bagi pemiliknua hingga menaikkan statusnya di mata masyarakat lainnya," kata Iskandar. Cincin itu bisa saja dulu dikenakaan di kesemua jari tangan sehingga menunjukkan tingkat identitas atau status ekonomi orang bersangkutan di mata yang lainnya. Makin banyak cincinnya makin tinggilah statusnya di mata masyarakat lainnya. Jadi, ketika hendak membeli sesuatu saat itu juga tinggal memelorotkan atau melepas cincinnya untuk jadi pembayaran kepada penjual. Ketika semua jari tidak bisa lagi menampung cincin tersebut, maka mulailah dirangkai dalam seutas tali. Cincin baru yang dimilikinya terus dimasukkan ke temali tersebut hingga penuh. "Tali berisi 'Cincin Anye' itu berikutnya dijadikan kalung, sehingganya ada kalung Cincin Anye sempang satu meter yang saya temukan, mungkin pemiliknya adalah orang yang sangat kaya pada masa hidupnya," kata Iskandar. Pada kesempatan lain "Cincin Anye" juga menjadi salah satu materi sesajian (sesajen) yang dipersembahkan dalam satu kegiatan ritual masyarakat. "Hingga pada tahun 60-an saja 'Cincin Anye' tersebut masih sering ditemukan keberadaanya di tengah masyarakat yang dipergunakan sebagai alat pembayaran," katanya. Hanya, hingga tahun 90 -an keberadaan alat pembayaran khas yang menyimbolkan sistem dan tingkat perekonomian masyarakat Kerinci di masal lalu itu, mulai menghilang peredarannya karena semenjak awal 70-an sudah tidak dipergunakan lagi digantikan uang resmi yang diterbitkan pemerintah ditambah makin meningkatnya perekonomian masyarakat. "Saat ini, hanya sesekali saja 'Cincin Anye' masih bisa ditemukan masih dipergunakan masyarakat dalam ritual tradisi tertentu, tapi tidak sedikit pula ritual lainnya yang justeru menggantikan keberadaan cincin tersebut dengan uang," kata Iskandar.

BERBAGI KE:
lintasberita

Berita Terkait:

0 Komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas comment nya kawan. Silahkan datang kembali ke blog saya ini ya?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More