Jumat, 14 Januari 2011

Sadarkah Kita Digdaya Sebagai Netizens Dunia?

PELAYANG BLOG - Jakarta, Kita pernah mendengar bahwa 'Bangsa yang besar adalah yang menghargai jasa pahlawannya' itu benar, tetapi di cyber world bangsa kita perlu juga mempunyai keyakinan bahwa 'Bangsa yang besar adalah yang sadar akan kebesaran-nya'.
Kita memang tahu bahwa Blackberry, Facebook, Twitter, Yahoo, Google adalah nama besar di Internet tapi kita perlu lebih tau lagi bahwa situs-situs tersebut memberi perhatian kepada masyarakat kita karena jelas-jelas mereka diuntungkan dan pengguna dari Indonesia membuat bisnis mereka bisa berjaya. Jadi apabila masyarakat kita melakukan churn out (pindah) ke layanan lain itu pasti akan sangat menggoyang bisnis mereka.
Namun sayang sekali bangsa kita walau mempunyai peoples-power yang sedemikian, mempunyai akses ke segala informasi melalui search engine dan sebagainya, banyak yang tidak pernah menyadari kebesaran bangsa kita ini dan tidak mencari tahu bahwa sedemikian besar bangsa kita di dunia maya.
Dan bila ini ditanyakan kepada setiap individu mungkin yang paling sering terucap adalah nada miring menyalahkan pemerintahnyalah yang kurang member fasilitas, aturannya yang kaku. Jarang ada yang introspeksi untuk melihat dari diri kita sendiri selaku pengguna.
Bayangkan dengan komunitas pengguna yang sedemikian besar ini selayaknya kita menjadi raja dan dimanja. Dalam hal jumlah kita memang masih dibawah Cina tetapi justru dengan kemandirian Cina baik di dunia ICT dan dunia maya maka masyarakat mereka bukan lagi 'obyek yang cantik' bagi penyedia layanan internasional. Perhatian yang besar adalah pada negara seperti Indonesia dan India (yang besar dalam populasi tetapi belum kuat dan mandiri sebagai bangsa).
RIM Menjadikan Pasar Kita Sebagai Andalan Mereka
Contoh mudah pada kasus Blackberry yang bila tidak menuruti ketentuan yang berlaku akan diblokir oleh pemerintah (sensor pornografi dan pemindahan server ke Indonesia), aneh sekali justru banyak (walau tidak semua) masyarakat kita yang khawatir menjadi korban (tidak bisa internetan) lalu serta merta mengumpat dan menyalahkan pemerintah bila kelak RIM tidak mempedulikan permintaan pemerintah tersebut.
Padahal jelas permintaan pemerintah tersebut wajar dan merupakan pelaksanaan atas undang- undang yang dibuat oleh DPR (yang notabene sebagai wakil rakyat, termasuk rakyat dunia maya).
Baiklah daripada menggunjingkan pemerintah mari kita kembali membahas Blackberry. Ingat bahwa tolok ukur kesuksesan bisnis gadget dan internet bukan dalam hal adu fitur melainkan seberapa banyak produk dan layanan tersebut diminati suatu masyarakat. Karena fitur adalah 'gula' untuk memikat masyarakat ('semut yang suka gula').
Demikian pula dalam halnya Blackberry. Tahukah anda bahwa RIM menjadikan pasar kita sebagai andalan mereka agar eksis (dan 'kelihatan' berdaya) melawan iPhone dari Apple. Kita tahu bahwa iPhone adalah head-to-head competitor-nya Blackberry. Di Amerika sendiri populasi pengguna Blackberry mari masih kalah dari iPhone.
Salah satu buktinya ini yang saya temukan dari situs Blackberryrocks.com dimana masyarakat kita jadi pembicaraan disana:
For those of you wondering how BlackBerry is doing in the handset race against the iPhone, here are some statistics to wrap your head around:
It's not all about the iPhone, at least within one of the world's fastest growing mobile consumer markets, Indonesia. Today, InMobi, the largest mobile ad network in Asia, Africa and Indonesia, released data showing that RIM's Blackberry device may be leading the handset race in Indonesia. From January 2009 to June 2009 , mobile ad requests on Blackberry phones increased by 842 %, compared to mobile ad requests on Indonesia iPhones, which increased only by 205%*.
You're probably saying to yourself "Why does it matter how BlackBerry is doing in Indonesia?". In case you don't already know, Indonesia's mobile market is pretty big.
Indonesia is predicted to be the third largest mobile market after China and India by 2010 according to the ROA Group. Already, mobile users in Indonesia far outnumber active Internet users by 5 to 1 , and the country boasts a 56.8 % mobile penetration rate verses a 10.4% according to Internet World Stats.
Pembicaraan tersebut terjadi sekitar 2009 dan pasti di 2011 mereka lebih memperhatikan pasar di Indonesia. Selain itu walau dengan rata-rata GDP yang rendah tapi jumlah pengguna BB kita kian meroket.
Lalu kenapa kita harus khawatir tidak dipedulikan RIM? Santai sajalah karena pasti (dengan berbagai fakta diatas) justru RIM yang akan berupaya penuh untuk menuruti regulasi pemerintah kita, itu semua demi melayani, menimang dan memanjakan jutaan pengguna BB yang di Indonesia, kalau tidak peduli (yang berarti sebenarnya tidak mampu) maka RIM akan kehilangan muka terhadap Apple.
Seperti yang telah diutarakan pada Blackberry Devcon Asia 2011 , RIM tentu akan berkomitmen untuk mengikuti ketentuan pemerintah. Jadi jangankan sekedar meminta RIM melakukan permintaan pemerintah, bila seluruh pengguna BB bisa bersatu lalu meminta RIM melakukan suatu layanan khusus bagi masyarakat kita bisa dipastikan 99 % RIM akan menuruti itu. Adapun yang 1% adalah bila secara Telematika bagaimanapun permintaan tsb tidak dapat dipenuhi (ya RIM disuruh belajar lagi saja dan mengembangkan Research & Development mereka).
Kita Harus Sadar Kedigdayaan Kita

Contoh lain coba anda cari goo

BERBAGI KE:
lintasberita

Berita Terkait:

0 Komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas comment nya kawan. Silahkan datang kembali ke blog saya ini ya?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More