Senin, 13 Desember 2010

Dulu Melantun Ayat Suci, Kini Tempat Memadu Kasih

PELAYAN BLOG - Jambi, Pintar membangun, tapi tak pandai menjaga. Mungkin kalimat itu layak disematkan kepada pengambil kebijakan di Kabupaten Batanghari terhadap kondisi kompleks eks arena MTQ. Miliaran rupiah digelontorkan. Dan kini, bangunannya terbengkalai.
EKS arena MTQ di Kabupaten Batanghari menjadi wujud konkrit bangunan yang dibiarkan terbengkalai. Gedung yang dibangun saat Batanghari menjadi tuan rumah penyelenggaraan MTQ tingkat Provinsi Jambi pada 2008 silam itu kini tidak jelas lagi fungsinya. Padahal, bangunan yang berdiri di tengah kota Muara Bulian itu menjadi saksi bisu prestasi hebat Qori dan Qoriah dari Bumi Serentak Bak Regam.
Pada masa itu, Batanghari keluar menjadi juara umum tingkat Provinsi. Masyarakat Batanghari gegap gempita menyambut kemenangan yang disumbangkan oleh putra-putri terbaik Batanghari. Tropi bergilir yang begitu megah yang berhasil dipertahankan diarak mengelilingi kota Muara Bulian untuk menumbuhkan semangat dan rasa bangga masyarakat sebagai masyarakat Batanghari.
Saat ini, bila memasuki eks arena MTQ, sepintas suasana terasa lengang, seolah-olah tidak ada manusia di dalamnya. Tidak banyak warga yang hilir mudik di dalam arena tersebut. Seperti pada saat Tribun beberapa kali berkunjung kesana.
Namun bila bersabar untuk mengetahui suasana di sana, berbagai fenomena yang menarik akan ditemukan. Tak berapa lama setelah Tribun berdiri di sekitar pintu masuk, empat orang pelajar yang mengendari dua sepeda motor meluncur ke dalam lokasi eks arena MTQ.
Melihat dari seragam yang digunakannya, bisa dipastikan mereka adalah pelajar yang masih duduk di bangku sekolah menengah pertama (SMP). Satu di antara empat orang itu tidak lagi memakai seragam lengkap. Baju putihnya telah diganti dengan kaos berwarna coklat, namun celananya masih tetap celana pendek biru.
Mereka nongkrong sekitar 300 meter dari pintu masuk bangunan yang selesai tahun 2008 itu. Masing- masing telah mengapit sebatang rokok yang sudah menyala ketika bertemu lagi dengan mereka yang sedang duduk di badan jalan yang masih mulus itu. Mereka terlihat asyik bercerita sembari menikmati setiap kepulan asap yang berasal dari rokok itu.
Kehadiran Tribun sempat membuat mereka grogi. "Kami hanya main-main saja disini, Bang. Guru kami tidak masuk, jadi kami main sebentar di sini. Nanti kami masuk lagi jam pelajaran selanjutnya," ucap satu di antara mereka yang mempunyai nama panggilan Andre. Ia mengungkapkan kalimat itu sebagai pembenaran atas kelakuan mereka yang telah bolos dari sekolah.
Namun setelah suasana cair dan saling bergurau, mereka akhirnya mengakui mereka sedang bolos karena sedang malas belajar. Anak-anak berusia belasan tahun itu juga menyebut eks arena MTQ itu menjadi tempat idaman mereka saat bolos sekolah, dan menjadi tempat idaman pelajar lainnya yang melakukan hal yang sama dengan mereka.
Mereka mengaku memilih tempat itu sebagai arena bolos karena tempatnya yang luas dan jauh dari keramaian. "Di sini sepi. Orang yang datang ke sini paling orang yang sedang bolos atau orang pacaran," ucap seorang anak lainnya yang mengaku bernama Rudi sembari menunjuk sepasang kekasih yang baru saja melintas memasuki arena itu. "Banyak anak sekolah yang pacaran disini," katanya lagi.
Berdasarkan pengalaman mereka, selama melakukan aksi bolos belasan bahkan puluhan kali di tempat itu, tidak pernah ada orang yang datang untuk mengusir mereka. "Namun beberapa kali mereka mengaku didatangi oleh beberapa orang pemuda meminta uang rokok. Nggak kenal juga siapa mereka. Tapi mereka paling meminta uang rokok Rp 10 ribu," ujar Andre sembari menikmati rokoknya.
Tribun lalu mengitari eks arena MTQ yang telah berubah fungsi bersama empat orang pelajar SMP itu. Ucapan anak sekolah itu ternyata benar. Di sana setidaknya ada dua pasangan muda-mudi yang sedang memadu kasih. Satu orang terlihat mengenakan seragam sekolah SMA.
Orang yang sedang pacaran itu bukan memilih duduk di tempat yang bisa terlihat dengan jelas, melainkan di belakang sebuah gazebo yang wujudnya telah memprihatinkan. Pasangan itu langsung pergi meninggalkan tempat nongkrongnya itu saat mengetahui ada orang yang mendekatinya.
"Mungkin mereka pikir kita ini mau majak (meminta uang, red)," ucap Rudi. Ia menyebut di sana memang sering ada kejadian orang yang sedang pacara dimintai uang oleh pemuda yang disebutnya sebagai preman.
Pasangan yang memadu kasih di tempat itu ternyata lebih banyak lagi pada saat malam daripada pagi dan siang. Pasangan itu mencari tempat favoritnya, yang dianggapnya tidak akan diganggu orang lain. Bahkan, menurut informasi yang dihimpun Tribun, tidak sedikit orang yang pacaran itu memilih tempat di dalam semak-semak.
Orang yang pacaran di dalam semak itu sudah berkali-kali ditangkap dan diperingati supaya tidak melakukan hal yang sama. Sudah berkali-kali pula ditemui ada pasangan yang sedang melakukan adegan layaknya telah menjadi suami istri saat ditangkap di dalam semak itu. (suang sitanggang)
sumber: http://www.tribunjambi.com

BERBAGI KE:
lintasberita

Berita Terkait:

0 Komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas comment nya kawan. Silahkan datang kembali ke blog saya ini ya?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More