Jumat, 29 Oktober 2010

SAD. Demi Sekolah, Tolak Untuk Segera Nikah


PELAYANG BLOG - TEBO,Melihat lebih Dekat, SAD Yang Pertama Lulus SMP
Komunitas suku anak dalam (SAD) terus berevolusi. Dari hidup berpindah, sekarang tidak sedikit yang telah menetap. Dan ada juga yang telah mengenyam pendidikan. Bahkan Besudut (18) alias Herman Jalil, merupakan anak SAD pertama yang lulus SMP.
MELIHAT Besudut berseragam sekolah, tidak ada yang akan menyangka bahwa dia merupakan bagian dari komunitas SAD. Dia tidak ubahnya dengan remaja seusianya yang senang memakai aksesoris anak-anak muda seperti cincin di jari jempol dan lainnya.
Sosok sederhana itu memiliki tekad baja untuk maju. Tinggal di daerah Makekal Tanah Garo, meskipun harus menempuh perjalanan melintasi hutan, namun tak pernah bolos untuk ikut sekolah di SMP terbuka yang diselengarakan oleh SMP 14 yang terletak di desa Bangun Sranten. Beberapa bulan lalu, dia telah menjadi pemuda SAD pertama yang lulus SMP.
Jarak hutan makekal desa Tanah Garo dengan desa Bangun Seranten, lokasi digelarnya SMP terbuka, sekitar 25 kilometer. Itu harus dilintasinya dengan melewati hutan rimba sekitar 4 kilometer.
Kemudian melintasi jalan tanah perkebunan sawit. Medan berat itu, tidak menghalangi niat Besudut untuk sekolah. Jadwal belajar SMP terbuka, di SMPN 14 Bangun Seranten, dilaksanakan sekali seminggu, dan harinya sesuai dengan yang ada di kalender akademik.
Dalam kurun waktu tersebut, Besudut tercatat tidak pernah bolos, meskipun harus berjalan kaki, dan kalau lagi mujur bisa menumpang warga yang melintas.
"Dalam catatan sekolah, Besudut tidak pernah bolos belajar. Kegiatan belajar mengajar yang dilakukan sekali seminggu selalu diikutinya tanpa pernah alpa, "ujar Imardi, Wakil Kepala Sekolah SMPN 14.
Aktivitas keseharian Besudut sangatlah melelahkan dan penuh tanggungjawab. Dia merupakan tulang pungung keluarga, sejak sang ayah, yang bernama Pemikat, meninggal sekitar enam tahun lalu.
"Setiap hari jika bukan jadwal sekolah, dia nyadap karet liar, yang hasilnya tak seberapa. Kadang juga menjadi buruh upah membersihkan kebun warga sekitarnya, dengan upah ala kadarnya, "tutur Rahman, fasilitator NGO Warsi, yang selama ini banyak membantu Besudut.
Menurut Rahman, untung saja SMP terbuka gratis, jadi selama ini pihaknya hanya tinggal membantu buku-buku pelajaran dan pakaian untuk Besudut saja. Rahman mengatakan, keinginan Besudut untuk terus sekolah ke SMA bahkan sampai perguruan tinggi masih sangat besar.
Selama ini, Besudut menolak, jika keluarganya memintanya untuk menikah, demi untuk sekolah. Sementara itu, Yolisman, Kepala Sekolah SMPN 14 Tebo, mengatakan, pada dasarnya, Besudut atau nama formalnya Herman Jalil, memiliki kemampuan yang cukup baik untuk belajar.
Terbukti pada saat UN SMP lalu, dia lulus dengan nilai cukup baik. Dari empat mata pelajaran UN, nilai totalnya, mencapai 25 , 15 dengan rincian mata pelajaran Bahasa Indonesia lulus dengan nilai 6 ,80 , Bahasa Inggris 5.60 , matematika 6 ,50 , dan IPA 6 ,25.
"Selain itu motivasinya juga sangat tinggi, "ujarnya. Yolisman, mengaku sangat bangga selama ini, sudah bisa memfasilitasi Besudut untuk bersekolah, jadi untuk itu ia berharap nanti ada sekolah dan pihak lain yang bisa membantu Besudut, untuk bersekolah lebih tinggi lagi.
"Jika memungkinkan bisa sampai keperguruan tinggi. Demi memajukan pendidikan anak-anak dari suku anak dalam yang selama ini masih kurang tersentuh, "pungkasnya.
Sumber : http://www.bungoteboekspres.com

BERBAGI KE:
lintasberita

Berita Terkait:

0 Komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas comment nya kawan. Silahkan datang kembali ke blog saya ini ya?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More