Selasa, 07 September 2010

Ketika Senjata Api Mengoyak Buol


Buol -inilah satu contoh kenapa masyarakat menolak pol PP memakai Senpi ( Senjata Api)
apa jadi nya negara ini jika semua aparat seperti ini,
penjahat, perampok, korupsi merajalelah, namun kenapa peluru2 itu di gunakan untuk orang2 yang tak berdosa.
Belum lagi 1 bulan kita merayakan hari kemerdekaan kita, apa ini yang namanya merdeka...??,
Supriadi (26 ) masih dalam keadaan kritis di Rumah Sakit Umum Buol. Ia menjadi salah satu korban penembakan saat terjadi bentrok antara polisi dan warga di Buol, Sulawesi Tengah, Kamis (2 /9 /2010).
Sementara itu, Stevani Verawaty (17), terkulai tak berdaya. Tubuhnya lentur sekali seperti tak bertulang saat digendong masuk ke kamarnya.
Wartawan foto dan kamerawan segera menyorot putri pertama Saktipan Kapuung, suami Dahlia Sondak, orangtua Verawaty.
Dia kaget mendapati ayahnya Saktipan Kapuung tewas dalam bentrok warga sipil bersenjata batu melawan polisi yang mengokang senapan mesin otomatis di Buol, Sulawesi Tengah, Rabu dini hari, 1 September 2010.
Saktipan bersimbah darah di atas motornya saat timah panas bersarang di rusuk kiri bapak empat anak itu.
Peristiwa tragis itu menimpanya saat pulang dari rumah sakit setelah membawa seorang korban penembakan lainnya.
Dalam perjalanan pulang, Saktipan tertembak dan akhirnya mengembuskan napas terakhir di rumah sakit, Kamis (2 /9 /2010).
"Kami berpikir penembaknya tersebar karena ia ditembak jauh dari kerumunan aparat dan orang-orang yang berhadapan dengan polisi," kata Abdi Turungku, adik ipar Saktipan.
Abdi menduga kakak iparnya itu dua kali ditembak karena dia menyaksikan dua lubang menembus bawah ketiak Saktipan. Anehnya, dia tidak menemukan proyektil bersarang pada Saktipan.
"Tidak mungkin hanya satu peluru dalam dua lubang yang berbeda," kata Abdi.
"Kami sakit sekali. Terus terang ini sadis," sambungnya pedih.
Kelurga almarhum meminta kasus ini segera dituntaskan sebab, sampai malam ketiga setelah almarhum dimakamkan, belum ada tanda-tanda tegaknya kebenaran bagi keluarga korban.
Pada 1 Oktober depan, usia Saktipan genap 48 tahun. Sebagai Kepala UPT Transmigrasi Buol, Saktipan baru saja menyelesaikan pendidikan transmigrasi di Jakarta.
Ia pulang ke Buol berkumpul bersama keluarga selama Ramadhan, menanti tibanya Idul Fitri. Tapi takdir berkata lain, Tuhan memanggilnya lebih awal sebelum hari agung itu tiba.
Timah panas yang dimuntahkan senapan otomatis milik polisi telah melukainya dan membuat empat putrinya mendadak yatim, sekaligus membuat istrinya, Dahlia, harus berubah status menjadi orangtua tunggal.
"Saya sangat berharap masalah ini segera tuntas," tutur Dahlia.
Berubah
Menurut Dahlia, sepulang dari pendidikan di Jakarta, sikap suaminya itu berubah. Dia banyak berdiam diri bahkan sehari sebelum wafat, almarhum meminta maaf kepada sang istri dan menitipkan putri bungsunya, Apriali Ningsih (5), untuk dirawat.
Dahlia tidak menyangka kalau sikap almarhum itu adalah pertanda dia akan segera pergi selamanya ke pangkuan Sang Pencipta.
Malam itu malam ketiga meninggalnya almarhum. Suasana rumah sedikit sepi karena jemaah takziah belum datang. Sebagian besar masih di masjid menunaikan shalat tarawih.
Silvena (15), putri kedua almarhum, dan dua adiknya yang lain sudah duduk bersila hendak menyambut tamu malam ketiga.
Silvena merunduk. Disekanya air mata yang membasahi pipinya dengan jilbab yang menutupi kepalanya. Sementara itu, foto ayahnya yang telah tiada itu dibekapnya erat dalam pangkuannya.
"Sebelum meninggal, papa bilang saya sudah besar. Papa tepuk bahu saya. Kata papa, saya sudah besar. Sekolah yang baik, Nak," kata Silvena mengenang pesan terakhir sang ayah.
Tak pernah dijajah
Tragedi berdarah di Buol yang menewaskan delapan orang dan menyebabkan puluhan orang luka-luka ini adalah peristiwa paling buruk dalam sejarah Kabupaten Buol.
"Selama ada gejolak di daerah ini, belum ada darah yang tumpah ke bumi dan nyawa yang melayang sia- sia," kata Raja Buol XII Ibrahim Turungku.
Dia menambahkan, "Di sini sering ada demo, tapi tidak sampai seperti ini. Peristiwa ini paling buruk selama Buol ini ada."
Lain daerah lain pula adat istiadatnya. Begitu juga Buol. Kekerabatan dan kekeluargaan masyarakat Buol sangat kental sebab asal muasal Buol hanya satu rumpun.
Tidak ada subetnis di Buol. Jika etnis Bugis menyebut "ibu" dalam beragam nama, seperti indo, emma, dan mama, maka di Buol sebutan "ibu" hanya satu, "tiina".
"Ini yang membuat kami kuat," kata Ibrahim.
Selain mengenal sistem pemerintahan, masyarakat Buol juga masih kental dengan sistem kerajaan. Kerajaan Buol sudah ada sejak 15 Agustus 1858 . Raja pertamanya bernama Mohammad Noer Aladin. Sekarang Buol dipimpin raja ke-12.
"Catatan Kerajaan Buol yang ada di tangan kami ini difotokopi dari Netherland (Belanda)," kata Ibrahim.
Menurut Ibrahim, etnis Buol tidak pernah dijajah Belanda. Memang ada Belanda di Buol, tapi tidak berhasil menjajah. Kerajaan Buol tidak mau dijajah sehingga Belanda mengajak masyarakat Buol bekerja sama membangun daerah itu.
"Kami tidak pernah dijajah. Tapi kami bekerja sama. Buktinya istana raja ini dibikin oleh Belanda," kata Ibrahim.
Puncak ketidakadilan
Abd Razak M Razak, tokoh muda terdidik Buol, mengungkapkan, karakter masyarakat Buol sangat terbuka.
"Sepanjang kami tidak diinjak, welcome," kata Razak.
Dia menilai, tragedi Buol adalah bentuk perlawanan rakyat atas berbagai masalah dan ketidakadilan.
Menurut Razak, konflik vertikal di Buol saat ini adalah akumulasi kekecewaan masyarakat dari berbagai masalah yang selama ini terpendam, seperti diskriminasi penanganan unjuk rasa, arogansi aparat keamanan, dan tindakan-tindakan negatif lainnya, seperti kompensasi uang dari pelanggaran lalu lintas.
"Sudah jadi rahasia umum, sweeping sepeda motor di sini kompensasinya Rp 50.000 tiap satu pelanggaran," kata Razak.
Kapolda Sulteng Brigjen (Pol) Muh Amin Saleh mengaku akan bertindak tegas dan obyektif sesuai fakta-fakta di lapangan.
"Sampai sekarang kami masih kumpulkan bukti- bukti," kata Amin Saleh.
Kasus Buol, menurut Kapolda, dibagi dalam tiga kategori kejadian, yakni tewasnya tahanan di Polsek Biau, warga yang meninggal karena tertembak, dan penembakan pada 1 September 2010.
Begitu juga dengan materi pelanggaran, pelanggaran dalam tragedi Buol terdiri atas pelanggaran disiplin, kode etik, dan pelanggaran pidana.
Hingga hari keempat setelah bentrokan, baru seorang polisi berpangkat brigadir yang disebut mengarah pelanggaran pidana.
Tragedi berdarah di Buol ini pecah setelah Kasmir Timumun meninggal di tahanan Polsek Biau, Senin 30 Agustus.
Polisi mengklaim Kasmir meninggal karena bunuh diri. Namun, rakyat tidak percaya dan menuduh polisi menganiayanya karena di tubuh korban ditemukan luka-luka memar dan mulutnya tersumpal kertas.
Ribuan warga kemudian berunjuk rasa ke Mapolsek Biau, Selasa (31 /8 /2010). Namun, mereka dihadang polisi dan anggota Brimob bersenjata otomatis.
Polisi-polisi ini melepaskan tembakan dengan alasan membubarkan massa dan mempertahankan diri dari serbuan warga.

Sumber : ANT

BERBAGI KE:
lintasberita

Berita Terkait:

0 Komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas comment nya kawan. Silahkan datang kembali ke blog saya ini ya?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More