Kamis, 23 September 2010

Kejam nya kehidupan


(21.00 WIB) di sebuah emper ruko di Jakarta
"Bu, lapar, Nisa pengen makan nasi," rintih bocah perempuan enam tahun yang duduk berselonjor kaki sambil kedua tangannya menggelayuti lengan ibunya.
Perempuan yang terlihat lebih tua dari usia sebenarnya itu hanya menatap perih anak perempuannya yang semenjak Magrib hingga malam itu hanya sarapan roti seribuan dua bungkus dan terpaksa minum air mentah tak begitu bening yang diciduknya dari kulah sebuah masjid yang terhampar di ujung kota. Padahal, semalam ibu dan anak itu terpaksa tak makan sahur. Bukannya telat bangun, tapi, tak ada makanan apapun yang bisa buat mengganjal perutnya. Hanyalah sisa air mineral saja di botol plastik yang bisa ia teguk sekadar mengusir dahaga.
Tak ada kalimat yang terucap dari bibir perempuan yang pucat, kering dan sedikit pecah- pecah tersebab seringnya dipanggang terik sang mentari. Rasanya ia telah membosan berulangkali mengucap menjanji akan membelikan anaknya sebungkus nasi. Dan janji- janji itu hanyalah tinggal janji belaka tanpa berbuah bukti, persis janji manis para pejabat kelas tinggi yang hobi ingkar janji itu. Nyaris seharian perempuan itu mengemis di ujung stasiun, namun penghasilan hari itu hanya cukup untuk membeli roti murahan saja.
Garis hidup yang mesti dijalani perempuan usia dua puluh delapan tahun bersama anak perempuan semata wayangnya itu memanglah sangat keras dan berliku. Suaminya, yang kerja sebagai buruh bangunan, tewas mengenaskan tertimpa reruntuhan tembok yang baru dibangunnya, lima bulan lalu.
Beberapa bulan kemudian, perempuan malang itu terpaksa pergi meninggalkan rumah kontrakannya yang sempit dan pengap. Bukan hendak menghuni rumah baru yang lebih layak huni. Namun ia diusir sang pemilik kontrakan tersebab tiga bulan sudah tak sanggup membayar biaya kontrakannya. Mau pulang ke kampung halaman di Kebumen, tak ada ongkos jalan. Seandainya pulang kampung pun toh perempuan itu sudah tak ada kerabat dekat. Kedua orangtuanya telah lama meninggal dan tak pernah mewariskan apa-apa, kecuali gubuk reyotnya yang telah ambruk tergerus masa. Ikut numpang tingal di rumah mertuanya, jelas itu tak mungkin. Karena ia adalah menantu yang tak pernah diinginkan kehadirannya sedari dulu.
Semenjak itulah, ia hidup terlunta-lunta di pinggir jalan. Mengais rejeki dengan berbagai cara. Memulung botol dan gelas plastik bekas yang tercecer di pinggir jalan dan tong sampah untuk ditukar rupiah, hingga mengemis di terminal, stasiun dan perempatan lampu merah sambil kedua tangannya menadah pada para pengendara mobil-mobil mewah. Walau aksinya mengais rupiah dilakukannya secara sembuyi-sembunyi tersebab belum lama ini telah terhunus sebuah peraturan baru yang telah sah tertandatangani oleh para pejabat di kitab-kitab negara; di larang mengemis di jalanan dan bagi sesiapa yang nekat mengemis atau memberi uang pada pengemis, maka tindak pidana akan menjemputnya.
Lalu, jika senja mulai beringsut dan menjelma kegelapan, ia dan anak perempuannya tersaruk- saruk mencari tempat berteduh sekadar buat merebahkan tubuh yang terasa loyo dan payah setelah seharian bergulat mencari nafkah. Di emper toko, bawah jembatan, pinggiran terminal atau stasiun dan di mana saja asalkan ada sedikit tempat untuk istirahat barang beberapa jenak, tak jadi soal. Tak jarang tengah malam mereka terjaga dadakan dengan teriakan kawan-kawan senasib sepenanggungan. Dengan nyawa yang masih belum mengutuh sempurna di badan, ibu dan anak itu pun tergopoh menyelamatkan diri dari kejaran para petugas keamanan bertampang garang.
(21.15 WIB) di sebuah rumah mewah, kawasan perumahan elite di Jakarta
"Sayaaang! Buruaan..! Papa udah nunggu di mobil, tuh!" seru perempuan paruh baya yang masih terlihat muda dengan gaya dandanan tak mau kalah dengan anak remaja. Gurat-gurat kecantikan masih jelas tergores halus di raut wajahnya yang terpoles kosmetik berkelas. Sementara bibirnya yang masih kelihatan seksi pun nampak makin ranum dengan polesan listick warna pink.
"Iya, Ma, sebentar, lima menit lagi!" balas si anak yang masih sibuk merapikan rambut lurusnya di balik kamarnya dengan teriakan pula.
Lima menit berlalu, pintu kamar pun terkuak. Sesosok gadis belia usia enam belasan, berkaos ketat warna putih dipadu jaket hitam dengan resleting sengaja dibiarkan terbuka, celana penlis hitam, sepatu high heels hitam mengkilat, berjalan pelan sambil menuruni anak tangga. Tangan kirinya menenteng tas kulit minimalis warna hitam harga jutaan yang dibelinya saat shooping bareng Mamanya di sebuah mall terbesar di Jakarta. Sementara tangan kanannya mencengkeram Blackberry hitam, hadiah dari papanya beberapa waktu lalu saat baru diangkat menjadi pejabat tinggi sekelas menteri.
Sementara di sebuah garasi, tampak papanya sedang asyik menikmati empuknya jok mobil dinas terbaru Toyota Crown Royal Saloon yang baru dikirim pemerintah beberapa bulan yang lalu. Katanya sih sebagai bentuk penghargaan dari negara kepada para pejabat, agar bisa melaksanakan tugasnya dengan lebih baik dan bersemangat. Walau tetap saja, seminggu setelah acara pelantikan itu, semuanya berjalan kembali seperti semula. Lelaki paruh baya itu kembali pada kebiasaan lamanya; suka membolos kerja dan baru hadir jika ada sidang paripurna saja. Sesekali lelaki paruh baya itu memencet-mencet tombol AC, lalu mengelus-elus setir mobil dan kaca jendela yang halus nan mengkilat sambil mendengarkan musik favorite-nya; Kenny G. Di sebelahnya, istri pejabat penting sekelas menteri yang doyan berdandan itu nampak sibuk sendiri memencet-mencet tombol- tombol mulus Blackberry- nya.
Sekian detik kemudian, gadis belia dengan kostum anak muda gaul pun muncul, lalu membuka pintu mobil belakang dengan mengembangkan senyum termanisnya.
"Oke, Pa, Ma. Kita berangkat sekarang yuk, Aurel udah lapar nih," katanya sambil menutup pelan pintu mobil.
"Pak Darmin, tolong jagain rumah, ya. Jangan lupa, kunci semua pintu," pesan perempuan paruh baya, istri pejabat sekelas menteri itu pada Darmin, tukang kebunnya. Tak berapa lama setelahnya, mobil mewah itu pun melaju pelan, nyaris tanpa suara. Hmmm, maklum lah kalau suara mesinnya begitu halus dan mulus semulus body- nya, namanya juga mobil mewah yang harganya saja - katanya - mencapai Rp 1 ,3 miliar.
(22.45 WIB) di sebuah emper ruko di Jakarta
"Tramtib! Tramtiiib!" teriak seorang anak perempuan usia belasan tahun yang sedang berlari bergandengan tangan dengan bapaknya.
"Mbak, Mbak! Bangun, ada tramtib tuh!" bapak itu sempat berhenti sebentar, sambil mengguncang- guncang pundak seorang perempuan yang tengah pulas mengeloni anak perempuannya di sebuah emperan ruko.
Begitu terjaga, perempuan itu langsung memaksa bangun anaknya yang sedang lelap bersama mimpi-mimpi indahnya. Lantas gegas berlari sambil menyeret tangan anaknya yang telah terlatih berlari cepat layaknya peserta lari maraton yang telah berkali- kali menjuarai lomba lari. Untung saja, bapak-bapak tadi membangunkannya. Kalau tidak, tentu perempuan yang terlihat lebih tua dari usianya itu akan tertangkap basah bersama anak perempuan semata wayangnya.
(23.15 WIB) di sebuah restoran mewah di Jakarta
"Dihabiskan jusnya dong, sayang," kata perempuan paruh baya pada anak gadisnya.
"Aurel udah kenyang, Ma," sahut si gadis tanpa sedikit pun menoleh ke mamanya, rupanya ia tengah konsentrasi membuka-buka Facebook melalui Blackberry-nya.
"Papa juga, tuh habiskan gurameh-nya, sayang kan kalau disisain, mubazir, Pa,"
"Papa juga udah kenyang, nih," sahut Papa sambil menyulut rokok kreteknya.
"Pa, kata teman-teman arisan Mama, katanya gaji para pejabat mau naik lagi. Bener, Pa?" tanya Perempuan paruh baya itu sambil meletakkan handphone-nya di meja.
"Iya, Ma. Mungkin seminggu lagi."
"Besok kalau gajinya turun, Mama beliin perhiasan ya, Pa,"
"Loh, minggu lalu kan Mama baru beli,"
"Ya, kan Mama kepingin nyari model terbaru, Pa. Malu kan sama teman- teman arisan kalau perhiasan yang Mama pakai itu-itu terus,"
"Pa, Aurel juga ntar beliin baju, ya. Baju-baju Aurel udah pada nggak muat soalnya," sahut anak gadisnya yang masih asyik mencet-mencet Blackberry- nya.
"Iya, iya, Papa pasti beliin besok, jangan kuatir," balas Papa sambil mengembuskan rokok kreteknya pelan.
"Pa, udah malam, nih. Kita pulang sekarang, Pa. Ntar kemaleman," ujar perempuan istri pejabat itu sambil menyedot es jus alpukatnya.
Beberapa tempo kemudian, setelah mengangsurkan beberapa lembar kertas ratusan ribu rupiah demi sebuah makan malam di restoran berkelas yang biasa disambanginya itu, keluarga pejabat setingkat menteri itu pun gegas menuju mobil mewahnya dan meluncur pelan menuju rumah megahnya di salah satu kawasan perumahan elite yang cukup terkenal di Jakarta.
(23.55 WIB) di samping restoran mewah di Jakarta
"Alhamdulillah!" pekik perempuan yang raut wajahnya terlihat lebih tua dari usianya. Kedua matanya mendadak membinar penuh suka cita saat menemukan sisa-sisa nasi dan separoh badan ikan gurameh di tong sampah, di samping sebuah restoran mewah yang sudah tutup. Dengan sigap, ia mencomoti sisa-sisa nasi yang sepertinya belum basi itu. Lalu dimasukkannya ke dalam kantong kresek kecil yang tercecer di dekat tong sampah tersebut.
"Nisa, ibu bawa nasi nih," perempuan yang wajahnya mengguratkan kelelahan itu membangunkan anak perempuannya yang tengah duduk menekuk lutut terkantuk-kantuk bersandar tembok sebuah bangunan pertokoan, tak begitu jauh dari restoran mewah itu. Begitu mendengar kata 'nasi' Nisa langsung tergeragap, lantas reflek mengucek-ucek kedua kelopak matanya yang kusam.
"Ibu beli nasi?" Nisa menatap ibunya setengah tak percaya.
Perempuan itu menjawabnya dengan anggukan. Senyum terkembang pun langsung tergores dari bibirnya yang pucat. Lalu, dibukanya bungkusan kresek kecil yang disodorkan ibunya. Ia pun kembali menggoreskan senyuman.
"Alhamdulillah, Bu. Akhirnya Nisa bisa makan nasi juga," ucap gadis kecil yang lugu itu sambil menyuapkan nasi ke mulutnya dengan begitu lahapnya.
"Kok ibu nggak ikut Nisa makan," gadis itu menatap polos ibunya yang tengah begitu lekat memandanginya.
"Ibu sudah makan, kok. Ayo, buruan dihabiskan, setelah ini kita cari tempat yang aman buat istirahat," ujar ibunya sembari mengembangkan senyum yang sebenarnya terasa pahit karena menahan perut yang terus melilit. Tak apa aku menahan lapar, asalkan perut anakku bisa kenyang, batin perempuan itu menahan kepedihan.
***
Kebumen, 2010....
Mengenang kisah para pejabat lengkap dengan mobil mewah beserta kenaikan gajinya...,
Profil Singkat Penulis:
*Sam Edy Yuswanto, lahir di Kebumen 1977. Mahasiswa Tarbiyah STAINU Kebumen, bergiat di FPK (Forum Penulis Kebumen).
*Kegiatan rutin sehari-hari; di depan komputer, memperbanyak jam terbang membaca dan menulis cerpen. Bercita-cita bisa keliling dunia dengan hasil menulisnya (hehehehe).
*Cerpen-cerpennya telah banyak menghiasi media, seperti; Republika, Seputar Indonesia, Pontianak Post, Surabaya Post, Radar Banyumas, Koran Merapi, tabloid Cempaka, Kompas.com dan Annida- online.
*Salah satu cerpennya masuk dalam antologi 12 cerpen pilihan annida-online. Diterbitkan SMG Publishing.
*Cerbung perdananya (Bukan Cinta Manusia Biasa) dimuat secara berseri di annida-online.
*Tulisan lainnya juga telah tersebar di Suara Merdeka, Kedaulatan Rakyat, Rindang, Misykat, Buletin Forkis dan majalah Community STAINU, Buletin kesehatan dan buletin pesantren.
Sumber: http://kompas.com

BERBAGI KE:
lintasberita

Berita Terkait:

0 Komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas comment nya kawan. Silahkan datang kembali ke blog saya ini ya?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More