Kamis, 16 September 2010

Damai yuk...Indonesia vs malaysia


Bawa Tokoh Unyil dan Beri Sentuhan Indonesia
Sejak 31 Agustus lalu, Unyil dan Upin bersalaman di dunia maya sebagai ikon kampanye "Damai Yuk" untuk Indonesia-Malaysia. Salah seorang penggagas ikon itu ternyata Marsha Chikita Fawzi yang tak lain adalah putri pasangan selebriti Ikang Fawzi dan Marissa Haque.
Sambil duduk bersila di sofa, Kiki--sapaan akrab Marsha- berusaha mengenang lagi pemicu munculnya ide gerakan "Damai Yuk" yang kini didukung banyak orang, baik di Indonesia maupun Malaysia, terutama melalui situs pertemanan Facebook dan Twitter.
Menurut cerita Kiki, ide itu muncul dari hasil ngobrol antara dirinya dan enam mahasiswa Indonesia di Malaysia. Di sebuah warung kopi, mereka mendiskusikan situasi yang kurang baik akhir-akhir ini antara dua negara tetangga tersebut. "Dari situlah lalu muncul pemikiran untuk membuat sesuatu yang berguna bagi dua negara, meski tak seberapa," ujar Kiki saat ditemui di rumah orang tuanya, kawasan Bintaro, Senin (6 /9).
Pertemuan tengah malam itu pun akhirnya menyepakti untuk melakukan kampanye "Damai Yuk" dengan ikon tokoh kanak-kanak asal Indonesia, si Unyil, dan tokoh kartun asal Malaysia yang sedang happening, si Upin. "Mengapa Unyil dan Upin? Sebab, keduanya adalah ikon yang polos, disenangi, dan secara kultural dekat dengan budaya masing-masing," ucap perempuan kelahiran Jakarta, 28 Januari 1989, itu.
Kampanye damai dinilai merupakan yang terbaik untuk meredakan tensi tinggi yang sedang mendera dua negara. Apalagi, damai lebih berdampak kebaikan dibanding perang. "Masak sih hari gini masih berpikir perang," tutur mahasiswi semester akhir jurusan film animation di Multimedia University (MMU), Putrajaya, Malaysia, tersebut.
Pada subuh 31 Agustus, gambar ikon "Damai Yuk" dirilis melalui jejaring sosial Facebook dan Twitter. "Subuh di-posting, siang sudah menyebar, sorenya saya sudah dapat kabar bahwa Glenn Fredly (penyanyi) sudah menjadikannya sebagai profile picture di Twitter- nya," ungkap Kiki bangga.
Meski begitu, tidak sedikit komentar pedas yang muncul. Bahkan dengan kata-kata yang tidak pantas dikemukakan. Banyak yang mengira bahwa kampanye tersebut sengaja dirilis orang Malaysia sehingga mendapat sentimen negatif dari peselancar di dunia maya asal Indonesia.
Kiki memperlihatkan beberapa posting negatif tersebut. Terutama yang ditulis di alamat Facebook dan Twitter milik Les'Copaque Production Sdn Bhd, rumah produksi pembuat film animasi Upin- Ipin. "Awas, ini strategi mereka (Malaysia)," tulis seorang komentator.
Kiki menyatakan sedih melihat hal itu. Tapi, kemudian dia berupaya menyadari bahwa segala perjuangan pasti menemui rintangan. "Aku hanya ingin tegaskan bahwa kami ini bukan organisasi atau sejenisnya. Kami hanya sekelompok mahasiswa Indonesia di Malaysia yang senang damai. Terus terang, kami nggak suka politik," tegas perempuan bertinggi 165 cm itu.
Menurut Kiki, kampanye "Damai Yuk" tersebut benar-benar tidak dibiayai lembaga mana pun. Semua ditanggung para penggagasnya dari kantong masing-masing. Mereka baru berencana mengumpulkan dana untuk membuat kaus, pin, dan aksesori lain tentang ajakan damai antara dua negara tersebut. "Ini gerakan nonprofit. Yang kami lakukan hanyalah ekspresi seni," ungkap anak bungsu dua bersaudara itu.
Kiki menceritakan, suasana di Malaysia tidak setegang di Indonesia dalam menyikapi konflik antara dua negara tersebut. Bahkan, seperti tidak pernah terjadi apa-apa. "Kondisi di Malaysia, terutama di Putrajaya, biasa saja. Nggak ada ketegangan sama sekali. Malahan, di kantor, teman- teman yang kebanyakan orang Malaysia tetap baik- baik saja sama saya," terangnya.
Kiki memang kuliah sambil bekerja. Sejak awal 2010, dia diterima di Las'Copaque Production, rumah produksi yang membuat film animasi Upin-Ipin. Bahkan, dia merupakan satu-satunya orang Indonesia yang bekerja di perusahaan tersebut. Dia terjun langsung ikut membuat animasi film anak-anak yang banyak digemari di Indonesia itu.
Karirnya dimulai saat ikut program magang di perusahaan tersebut. Meski magang, Kiki sudah dibayar RM 500 (ringgit Malaysia) atau Rp 1.400.000 (kurs 1 RM = Rp 2.800) per bulan. Lantaran pekerjaannya dinilai istimewa, Kiki akhirnya diterima sebagai karyawan dengan gaji lebih besar. Namun, mulai September ini, dia harus mengambil cuti untuk menyelesaikan tugas akhir kuliahnya.
Di rumah produksi tersebut, Kiki mengaku belajar banyak tentang 3D modeller, setting dan background modeller, tapi akhirnya lebih sreg menjadi animator untuk film Upin- Ipin. Animator itu menganimasi setiap shoot adegan. Misalnya, saat Upin berjalan, kakinya dianimasi agar gerakannya pas. Terus, eye blinking, lipsing, dan sebagainya. "Karena itu, seorang animator suka ngaca sendiri sambil ngomong supaya tahu ekspresinya saat membuat animasi," paparnya.
Ada 20 animator di rumah produksi itu dan Kiki adalah satu-satunya dari Indonesia. Saat ini, meski sedang cuti, dia mendapat tugas untuk ikut mempersiapkan Upin- Ipin ke layar lebar. Kiki-lah yang memberikan sentuhan Indonesia dalam film dua anak kampung Malaysia itu.
Misalnya, lewat tokoh Shanty, teman Upin dari Jakarta. Agar benar-benar Indonesia, Kiki memberikan banyak polesan pada tokoh Shanty. "Directorscript writer suka mengajak saya untuk membantu. Misalnya, di Malaysia kan tidak dikenal kupu-kupu, tapi rama-rama. Terus, kata 'senang' di sana berarti mudah. Kalau di sini, artinya gembira," tuturnya. dan
Pada kesempatan lain, seperti dalam episode Berkelah atau Piknik, Kiki memasukkan unsur-unsur Indonesia untuk menyesuaikan dengan tokoh Shanty yang asli Indonesia. Misalnya, membuat animasi kue bakpia, semprong, dan keripik ceker ayam. "Supaya lebih kaya kulturnya. Dan mereka suka," ucapnya bangga.
Saat ini, Kiki sedang merayu Usamah Zaid, direktur produksi Upin-Ipin, agar memuat episode khusus kedatangan Unyil ke Upin- Ipin untuk menyukseskan kampanye damai dua negara bertetangga ini.
Kiki yakin, episode khusus tersebut bisa terwujud karena produsen Upin-Ipin juga sangat tertarik pada program kampanye damai itu. "Buktinya, para ofisial Upin-Ipin juga memasang wallpaper "Damai Yuk" di Facebook," imbuhnya.
Kiki bertekad memboyong ilmu film animasi sebanyak- banyaknya dari Malaysia ke Indonesia. Dia berambisi membuat film 3D yang diangkat dari cerita rakyat Indonesia. "Saya nilai, Upin- Ipin adalah tontonan anak kecil. Saya suka sedih kalau anak kecil meniru perilaku Sinchan dan Simpsons karena itu bukan tontonan anak-anak," sesalnya.(*)
sumber: http://www.jambi-independent.co.id

BERBAGI KE:
lintasberita

Berita Terkait:

0 Komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas comment nya kawan. Silahkan datang kembali ke blog saya ini ya?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More