Kamis, 15 Juli 2010

Nasib Harimau Dibahas Di Nusa Dua Bali


NUSA DUA - Perhelatan besar 13 negara dilakukan di Ayodya Resort Bali, yang membahas masa depan harimau dunia akan berakhir hari ini Rabu (14 /7 ). Pertemuan dunia yang bertajuk Pre Tiger Summit Partners Dialogue Meeting membahas nasib harimau di dunia. Agenda yang sudah berlangsung sejak Senin (12 /7 ) lalu itu sebagai persiapan awal, sebelum pembahasan "World Tiger Summit" yang direncanakan dilaksanakan di Saint- Peterburg, Rusia pada 15-18 September 2010 mendatang.
Dalam agenda ini Menteri Kehutanan Zulkifli Hasan menyampaikan jika Pemerintah Indonesa berupaya melakukan perlindungan satwa. Bahkan sudah merancang aturan, untuk mampu menjerat pelaku pemburu satwa dan pembalakan hutan dengan ancaman hukuman lebih berat. ""Kami akan jerat dengan undang - undang, perlindungan satwa langka. Dan hukumannya jauh lebih berat," tandas Zulkifli kemarin.
Saat ini harimau dalam kondisi kritis. Spesies binatang satu ini di seluruh dunia tinggal tersisa sekitar 3.200 ekor saja. Dari enam sub spesies tersebut, yaitu harimau Sumatera, Bengal, Amur, Indochina, China Selatan, dan Malaya.
Dia mengatakan ancaman kepunahan sudah sangat dekat. Akibat rusaknya habitat yang tidak terkendali, berkurangnya jumlah mangsa alami, perburuan dan perdagangan ilegal serta konflik dengan masyarakat yang tinggal disekitar habitat harimau tersebut.
Kondisi harimau di Indonesia, yaitu harimau Sumatera yang saat ini populasinya sekitar 400 individu atau 12 persen dari total populasi harimau di dunia. "Berdasarkan data, habitat harimau Sumatera telah menyusut hampir 50 persen dalam kurun waktu 25 tahun terakhir," cetus menteri yang politisi PAN ini.
Kondisi lebih rinci dijelaskan, dari total harimau Sumatera itu sekitar 70 persen dari habitat tersisa. Tersebar pada sekitar 20 petak hutan yang terisolasi satu dengan yang lainnya. Sehingga membuat Indonesia menjadi negara kunci dalam pelestarian harimau dunia.
Menyelamatkan harimau, lanjutnya, sama halnya dengan menyelamatkan hutan. "Populasi harimau yang baik merupakan indikator hutan yang sehat. Karena harimau butuh habitat yang luas dan mangsa yang banyak," Zulkifli.
Menurut Ketua Forum Harimau Hariyo T Wibisono dalam penjelasan bersama direktur Konservasi Keanekaragaman Hayati Dr Ir Harry Santoso sebelumnya, kondisi ironis Harimau Suamtra mesti mendapat perhatian serius oleh semua pihak. Sebelum aset negeri berharga ini punah seperti nasib Harimau Jawa dan Bali. Yang saat ini hanya tinggal kenangan.
Sedangkan Direktur Eksekutif WWF-Indonesia Dr Efransjah menilai pentingnya langkah penyelamatan habitat yang tersisa, restorasi kawasan kritis, serta mengimplementasikan tata ruang yang mendukung pembangunan secara lestari, guna memberikan wilayah jelajah yang cukup bagi Harimau Sumatera.
"Masalah pentingnya meminimalisir kemungkinan konflik dengan manusia, perlu menjadi agenda bersama dalam penyelamatan satwa dilindungi tersebut," imbuhnya.
Pertemuan kemarin melibatkan 13 negera di antaranya Bangladesh, China, India, Kamboja, Laos, Myanmar, Nepal, Rusia, Thailand, Vietnam, Bhutan, Malaysia dan tuan rumah Indonesia. Juga dihadiri para pakar, lembaga internasional seperti CITES dan IUCN dan lembaga swadaya masyarakat (LSM) nasional dan internasional. (art/aj/jpnn)
http://www.jpnn.com

BERBAGI KE:
lintasberita

Berita Terkait:

2 Komentar:

kasian harimau...
aku stuju, ada UU buat menjerat pelaku pemburu satwa dan pembalakan hutan. Harimau harus dilindungi! mereka juga makhluk yang berhak hidup...

Ya? Tp sangat sedikit, masyarakat yg sadar akan hal itu, apa lagi kulit harimau sangat mahal harga nya,

Posting Komentar

Terimakasih atas comment nya kawan. Silahkan datang kembali ke blog saya ini ya?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More