Senin, 26 Juli 2010

Hidup sengsara setelah digusur dari Kalibaru


MARUNDA (Pos Kota) -Warga korban penggusuran Palindo di RW 08 dan lOKebon Pisang, Kalibaru, Cilincing, Ja-karta Utara, ancam mengepung Kantor Walikota Jakarta Utara. Pasalnya, enam bulan pasca penggusuran merekabelum juga mendapat tempat yang layak di Rusun Marunda.
Bahkan dua ibu rumahtangga Yuyun Nuryati, 34 dan Mayangsari, 26, terpaksa melahirkan anaknya di bawah tangga rumah susun Marunda di Blok Bawal.
"Kami dan kawan-kawan tidak mendapatkan tempat tinggal yang layak. Padahal hampir seluruh rusun yang selama ini kami gunakan untuk bertempat tinggal seluruhnya kosong," jelas Suherman,36 , suami Yuyun, Minggu (25 /7).
Bersama 20 KK dengan 85 jiwa, termasuk anak-anak kini telantar di lantai dasar Rusun Marunda. Mereka hidup di bawah tangga rusun dan mendirikan tenda di pelataran parkir Rusun Marunda.
Selain itu, mereka harus menghadapi petugas yang minta agar mengosongkan tempat. Warga di sana juga jarang mandi, paling sehari sekali karena keterbatasan air. Belum lagi anak-anak mereka sering sakit karena kencangnya angin laut dan kurang gizi.
Untuk mencuci pakaian pun harus mengantre mengambil air sumur, dan menje-nun uv.i di tanah lapang yang luas." Kami ini manusia, Pak! kok tega kami dibiarkan hidup telantar seperti ini," kata Sukri rekan Suherman yang juga korban gusuran.
Sukri menambahkan, jika saat itu pihak pengelola menerima mereka masuk ke dalam rusun tak mungkin nasibnya seperti sekarang. Uang kri "him.iii yang mereka terima Rp3 juta sudah menipis untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Namun, pihak pengelola tetap bertahan agar mereka membayar sesuai dengan keten-tuan umum. "Kami harus membayar Rp500 ribu."
PUTUS SEKOLAH
Suhana 37, janda anak tiga ini juga merasakan kepedihan akibat tak mendapatkan rusun. Dirinya hanya tinggal di lahan parkir dan berdinding kain dan terpal. Kondisinya memprihatinkan karena anak keduanya terpaksa putus sekolah sejak rumahnya digusur beberapa waktu lalu.
"Gimana mau sekolahkan anak, makan sehari-hari aja susah, sementara kami akan diusir pihak kalau tidak mengikuti aturan membayar ketentuan umum. Kami dianggap mengotori lahan hunian," sahutnya.
Sebelum digusur dari Kali- baru, mereka dijanjikan mendapat tempat tinggal yang layak. Namun, janji sejak enam bulan lalu itu sampai saat ini belum terealisasi.
"Dulu sebelumnya kami pernah bertemu dengan Wakil Walikota Jakarta Utara Atma Senjaya, dia bilang kalau korban gusuran bisa mendapatkan fasilitas rumah susun. Nyatanya mana, kami malah kesulitan, padahal surat- surat yang kami ajukan sudah komplit," kata Saman korban gusuran mengaku berasal dari Makasar.
Pemerintah Kota Jakarta Utara diminta memikirkan nasib mereka. Selama ini mereka tidur di lantai, terkena angin malam bahkan sesekali terkena hujan. Warga mengancam akan mendatangi kantor Walikota Jakarta Utara guna mempertanyakan perihal rumah susun bersubsidi bagi orang tak mampu, (wandi/si/o)
sumber : http://bataviase.co.id
gambar: ilustrasi kami.
Kirim ke
lintas berita

BERBAGI KE:
lintasberita

Berita Terkait:

0 Komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas comment nya kawan. Silahkan datang kembali ke blog saya ini ya?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More