Minggu, 13 Juni 2010

Sekolah Suku anak dalam SAD


Sekolah Halom Putri Tijah adalah sekolah alternatif yang ditujukan untuk SAD usia sekolah di Kecamatan Air Itam Kabupaten Sarolangun. Sekolah ini diresmikan langsung oleh Bupati Sarolangun, Hasan Basri Agus (HBA) pada April 2008 silam...
Sebagai lembaga pendidikan khusus untuk Suku Anak Dalam (SAD), nama Sekolah Halom Putri Tijah yang beralamat di Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Itam cukup dikenal di kalangan masyarakat Kabupaten Sarolangun. Dalam menunjang kegiatan belajar mengajar, sekolah itu difasilitasi oleh PT Sari Aditya Loka-1 (SAL-1 ). Hingga saat ini sebanyak 22 anak SAD telah tercatat sebagai siswa yang belajar di sana.
Lokasi sekolah yang dibangun terbuka di tengah areal perkebunan kelapa sawit itu hanya berjarak sekitar 11 km dari pusat Kecamatan Pauh. Kegiatan belajar mengajar di sana dilaksanakan oleh seorang guru khusus, Rini Hartati bekerjasama dengan UPTD Pendidikan Kecamatan Air Hitam, Kepala Desa Pematang Kabau dan Temenggung Betaring sebagai Wakil SAD.
Menurut Kepala Divisi Community Development PT SAL (MT CDO PT SAL-1 ) Dewi Muslikhah, Program pendidikan Sekolah Halom Putri Tijah ini merupakan salah satu program Community Development (CD) PT SAL-1 untuk SAD di wilayah setempat. Program ini bertujuan agar anak- anak SAD nantinya dapat menguasai kemampuan membaca, menulis dan berhitung sehingga diharapkan mampu beradaptasi dengan baik dan menatap masa depan yang gemilang.
Seperti sekolah umumnyta, dalam kegiatan belajar mengajar para siswa juga mengenakan seragam sekolah khusus. Kurikulum yang digunakan di sekolah ini kata dia dibagi menjadi tiga tingkatan, Tingkat Dasar (6 bulan), Tingkat Menengah (6 bulan) dan Tingkat Lanjutan (12 bulan).
Berbeda dengan sekolah lainnya, kegiatan belajar mengajar (KBM) Sekolah Putri Tijah dimulai pada pukul 08.00 hingga sekitar pukul 10.30, dari hari Senin sampai Kamis sedangkan pada hari Jumat, kegiatan belajar mengajar dilakukan di Tano Pertemuan (Balai Pertemuan) yang terletak di ujung Jalan Kutai, Desa Pematang Kabau, Kecamatan Air Hitam. "Jam belajar ini memang sengaja kita rampingkan agar para siswa tidak jenuh," ujar Dewi kepada Jambi Independent.
Kepala pengawasan dan pengembangan program, Rafii menambahkan, saat ini Sekolah Putri Tijah telah tergabung dalam program Kesetaraan Fungsional (KF) di Dinas Pendidikan. Pada bulan Juni ini para siswa dijadwalkan melaksanakan ujian KF dimana bagi para siswa yang lulus akan mendapatkan sertifikat kelulusan serta berhak mengikuti program pendidikan Paket A. "Ya rencananya bulan ini (Juni, red) para siswa di sini rencananya akan mengikuti Kesetaraan Fungsional, tujuannya agar para siswa dapat mengikuti program pendidikan Paket A," terangnya, lagi.
Sekolah Putri Tijah juga mengadakan kegiatan peningkatan kualitas hidup (life skill), seperti, olah raga, ketrampilan tangan, kesenian daerah (menyanyi) dan pelajaran kebersihan, yang terdiri dari, tata cara praktek cuci tangan, gosok gigi, mandi, keramas, cuci baju dan kebersihan lingkungan. Dalam bidang kesehatan, diselenggarakanlah pemeriksaan gratis setiap bulan di Sekolah Putri Tijah bekerja sama dengan Puskesmas Desa Pematang Kabau. Selain itu dalam pelaksanaan kegiatan belajar mengajar, pihak pengelola juga mendesain beragam pola belajar seperti out bound dan kegiatan menyenangkan lainnya. "Alhasil, saat ini para siswa kita sudah bisa membaca, menulis dan berhitung, walaupun masih ada beberapa siswa di antaranya yang masih mengeja," kata Rafii lagi.
Selain mendesain pola belajar, pihak pengelola juga terus melakukan pendekatan kepada para orang tua siswa agar memberikan waktu dan kesempatan kepada anak- anaknya untuk data belajar di Sekolah Halom Putri Tijah, tujuannya agar para siswa betah dan mau mengikuti proses belajar mengajar. "Sebab sering kali ketika orang tuanya berpindah tempat, anak- anak mereka juga turut pindah sehingga tak jarang proses belajar anaknya menjadimenjadi terbengkalai, maka dari itu kita juga terus melakukan pembinaan dan pendekatan kepada para orangtua para SAD ini untuk tidak berpindah, kalaupun pindah anaknya diminta untuk tetap belajar," jelasnya.
Diharapkan para siswa dalam mengikuti program pendidikan berhasil. Dengan begitu nantinya mereka akan dapat mengakses berbagai informasi yang dapat membantu mereka untuk memperbaiki taraf hidup mereka dan masyarakat SAD pada umumnya. Gumenseng (13), salah satu siswa mengaku betah belajar di Sekolah Halom Putri Tijah.
Dia mengaku ikut belajar di sekolah Halom sejak sekitar lima bulan lalu. Selama di sana Gumenseng mengaku banyak hal-hal baru yang dia pelajari di sekolah tersebut, sejumlah permainan dan metode menyenangkan membuatnya semakin termotivasi untuk terus belajar. "Saya ingin jadi guru," jawab gadis belia yang baru bisa mengeja kata-kata itu ketika ditanya mengenai cita-citanya setelah besar nanti.(*)
(http://www.jambi-independent.co.id)

BERBAGI KE:
lintasberita

Berita Terkait:

0 Komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas comment nya kawan. Silahkan datang kembali ke blog saya ini ya?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More