Jumat, 25 Juni 2010

Egrang Mainan Tradisional yang Mulai Punah



Siapa yang tak kenal dengan egrang, permainan kaki kayu yang sempat tenar di era 1970 hingga 1980-an. Bahkan, saat perayaan kemerdekaan pun tak jarang, egrang menjadi permainan yang turut dilombakan. Namun sayang, seiring perjalanan waktu, permainan tradisional yang banyak diklaim oleh banyak daerah di Indonesia itu, kini mulai sulit dijumpai.
Mengenai asal-usul egrang sendiri, hingga kini masih menjadi perdebatan. Beberapa daerah di pulau Jawa dan sebagian Sumatera mengklaim, permainan egrang berasal dari daerahnya. Tapi yang jelas, di luar itu semua, egrang telah menjadi permainan yang cukup melegenda dan memasyarakat dimainkan oleh kaum muda dan tua di Indonesia.
Permainan egrang muncul sebelum Indonesia merdeka, tepatnya dibawa oleh orang Belanda. Egrang terbuat dari bambu atau kayu yang diberi pijakan kaki yang berfungsi untuk menggerakkan kaki agar dapat berjalan. Cara bermain egrang adalah dengan meletakkan kedua kaki di atas pijakan, dan berjalan sambil menjaga keseimbangan.
Di kalangan masyarakat Betawi, egrang dimainkan saat karnaval dengan berjalan bersama iring- iringan boneka Ondel-ondel. Tak hanya itu, saat perayaan kemerdekaan RI, masyarakat Betawi pun kerap melombakan permainan egrang. Maka tak heran jika masyarakat Betawi menganggap egrang sebagai mainan tradisionalnya.
Tak hanya di Jakarta, di Lampung sendiri, permainan egrang sering disebut dengan terompah pancung. Sedangkan orang Sumatera Utara menyebut permainan egrang dengan sebutan Jangkungan. Di Jawa sendiri, tradisi memainkan egrang selalu dilakukan masyarakat Surakarta saat festival kebudayaan di daerah setempat.
Tokoh kebudayaan Betawi yang juga Wakil Ketua Lembaga Kebudayaan Betawi, Yahya Andi Saputra, mengatakan, permainan egrang bukan hanya permainan milik masyarakat Betawi saja, melainkan permainan anak- anak yang tinggal di kawasan agraris. " Karena dulu kawasan pinggiran Jakarta merupakan kawasan agraris, maka anak-anak Betawi disana memainkan permainan ini," ujar Yahya kepada beritajakarta.com, Selasa (22 /6).
Dirinya mengaku, di daerah Betawi sendiri, dahulu egrang dimainkan sebagai arak-arakan saat musim panen tiba. Biasanya, egrang dimainkan dikawasan Betawi pinggiran, seperti daerah Pondokrangon, Cipayung, Cileduk, Joglo dan kawasan lain yang mata pencaharian penduduknya sebagai petani.
"Jadi bukan pada orang Betawi saja, beberapa daerah di Indonesia yang mayoritas penduduknya bermatapencaharian sebagai petani memiliki permainan ini. Hanya saja di setiap daerah namanya berbeda, yang jelas egrang menjadi permainan anak- anak nasional kawasan agraris," jelas pria yang juga merupakan staf tenaga pengajar di Universitas Indonesia.
Cerita mengenai asal-usul atau bahan nama permainan egrang di setiap daerah mungkin berbeda- beda. Namun yang jelas, egrang merupakan simbol permainan tradisional yang dapat mempererat persatuan bangsa serta identik dengan kondisi alam serta kesederhanaan yang ada di Tanah air.
Sumber:http://www.beritajakarta.com

BERBAGI KE:
lintasberita

Berita Terkait:

0 Komentar:

Posting Komentar

Terimakasih atas comment nya kawan. Silahkan datang kembali ke blog saya ini ya?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More