Rabu, 09 Juni 2010

Belum Bayar Rp35 Ribu Murid SDN Diusir Guru


PANGKALANKERINCI - Puluhan siswa SDN 010 Pangkalankerinci, Kabupaten Pelalawan, diusir dari ruang ujian kenaikan kelas. Yang mengusir para gurunya sendiri. Siswa-siswa itu diusir gara-gara terlambat membayar uang sekolah sebesar Rp35 ribu. Pihak orang tua murid menyesalkan kejadian itu.
Daulat HM Nababan (43 ), orang tuas Ari Saksi, kelas V SDN tersebut, mengaku kaget tatkala mendapati anaknya pulang sekolah lebih awal... Warga BTN Lama Pangkalankerinci, kepada Riau Pos (Gurp JPNN) itu menuturkan perasaannya yang kecewa berat. "Pada Senin (7 /6) pagi, anak saya pulang sekolah lebih cepat. Padahal seharusnya kedua anak ini masih berada di sekolah mengikuti mata ujian PPKN dan Agama. Tenyata, Ari Sakti tidak diperkenankan guru ikut ujian karena belum melunasi uang alat peraga in-vocus,"
beber Daulat, kemarin.
Berdasar cerita anaknya, Daulat mengatakan, anaknya disuruh keluar dan terus menunggu di luar kelas hingga lama, tapi tidak disuruh masuk lagi. "Akhirnya pulanglah dia sambil nagis. Rupanya karena belum bayar uang invocus," imbuhnya.
Sebagai orang tua, dia mengaku khawatir sang anak tidak naik kelas lantaran tidak ikut ujian. Siangnya, istri Nababan, Arlita M Napitupulu (41) pergi ke sekolah. Berbekal uang pinjaman dari kerabat, Arlita membayar tagihan uang invocus. Kepala para guru Arlita memohon agar anaknya boleh ikut ujian susulan. Pihak sekolah akhirnya mengizinkan Ari Sakti ujian seorang diri.
Nasib yang dialami anak kandung Daulat HM Nababan yang lain, bernama Raja Pande (kelas II). Raju Pande juga terpaksa ujian seorang diri akibat terlambat membayar uang tersebut. "Akhirnya sore hari Senin itu anak saya Ari Sakti boleh ujian menyusul. Adiknya si Raja Pande kebetulan masuk siang, ujian juga disitu sesudah mamaknya bayar uangnya," tuturnya lagi.Menurutnya, masih ada belasan anak lainnya yang bernasib hampir sama. Bahkan hingga hari kedua ujian kenaikan kelas, beberapa siswa masih tidak diperkenankan ujian lantaran tidak kunjung melunasi kewajiban. Daulat menilai, sikap guru yang mengusir siswa dan didukung kepala sekolah itu tidak profesional.
Kepala SDN 010 Hj Isdarlis yang dihubungi wartawan tidak mambantah hal itu. Dia mengakui pihaknya memang melakukan pemungutan terhadap uang untuk pembelian invocus. Ia juga mengakui bahwa ada murid yang difunda ujiannya karena belum bayar. "Namun kebijakan tersebut sudah disepakati wali murid dan komite sekolah," dalihnya.
Dikatakan, sebenarnya pihaknya tidak melarang siswa mengikuti ujian, melainkan hanya menunda beberapa waktu sampai yang bersangkutan melunasi kewajibannya. Namun ketika ditanya mengenai dampak psikologis bagi anak, Isdarlis tidak menjawab. Saat dimintai tanggapan atas kasus tersebut, Kepala dinas pendidikan Pelalawan Drs H Darwis Alkadam MSi mengaku belum menerima laporan pengusiran murid dari ruang ujian. Namun, jika itu benar, Darwis mengatakan, mestinya hal seperti tersebut tidak boleh terjadi. Dia berharap pihak sekolah mencari jalan keluar terbaik ketika ada siswa yang belum mempu membayar.

Dikutip dari http://www.jpnn.com

BERBAGI KE:
lintasberita

Berita Terkait:

1 Komentar:

Trims kunjungannya di www.masprinet.co.cc Ini kunjungan balik... Eh aku gak lihat tempat pengunjung blog ini untuk berbagai cerita semacam chatbox lah.... Atau aku aja yg gak liat entah dimana di Blog ini?

Posting Komentar

Terimakasih atas comment nya kawan. Silahkan datang kembali ke blog saya ini ya?

Share

Twitter Delicious Facebook Digg Stumbleupon Favorites More